Assalamua'alaikum Sahabat Tulisan Kreatif Remaja

Senin, 23 November 2015

                     "Persahabatan Tiga Remaja"

Di sebuah desa terdapat tiga remaja yang bersahabat sejak kecil. Rumah mereka saling berdekatan sehingga sering keluar bersama. Saat di TK mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Bila salah satu belum siap, yang lainnya akan sabar menunggu. Setelah mereka siap, baru berangkat bersama-sama.
Ketiga remaja itu bernama Adi, Dedy, dan Eka. Tetapi Eka lebih tua satu tahun dari Ady dan Dedy. Saat Eka kelas 1 SD, Ady dan Dedy masih di TK. Walaupun berbeda kelas mereka tetap menjaga persahabatan diantara mereka. Setelah pulang sekolahpun mereka tetap bermain besama teman-teman yang lain. Tiga sahabat ini sangat suka bermain sepak bola setiap hari, mereka kumpul di lapangan tepat pukul 03.00 sore.
Bersama teman - teman yang lain mereka mengumpulkan uang untuk membeli bola plastik yang harganya Rp 3.500. Setelah mereka mendapatkan bola, Eka, Adi, dan Dedy mulai bermain dengan semangat hingga menjelang magrib. Mereka pulang ke rumah masing - masing untuk mandi dan mempersiapkanuntuk berangkat ke musholla dekat rumah mereka. Saat azan tiba, mereka berangkat bersama – sama hingga pulangnyapun mereka juga bersama - sama. Sebelum pulang mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar, walaupun mereka masih mempunyai PR.
Hampir setiap hari mereka berkumpul bersama, apalagi saat hari libur. Mereka bisa bermain sampai lupa waktu dan larut malam. Sampai - sampai Dedy dimarahi ibunya. Dedy kena marah gara - gara pulang terlalu malam. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan penuh canda dan tawa.
Ketika Eka naik ke SMP, Adi dan Dedy berada di kelas 6 SD. Mulai sejak itu mereka bertiga jarang bermain dan keluar bersama. Eka jadi jarang keluar rumah karena ia mulai serius dengan pelajaranya, tetapi Adi dan Dedy menyadari bagaimana kesibukan yang dialami Eka. Di kelas 6 SD ini, Adi dan Dedy masih bisa bermain bersama, tetapi mereka merasa kurang puas karena tidak hadirnya Eka.
Saat Adi dan Dedy naik ke SMP, mereka pisah sekolah. Sehingga mereka tidak bisa kumpul bersama lagi. Ketiga remaja ini memiliki sekolah yang berbeda, dan mereka sudah tidak bisa bermain bersama lagi karena pulangnya sore hari. Mereka sudah lelah searian sekolah, jadi lebih memilih istirahat di rumah. Tiga sahabat ini menekuni pelajaranya masing – masing. Dengan belajar giat dan rajin mereka berharap mendapat nilai yang terbaik. Jadi mereka tidak memiliki waktu luang sedikitpun untuk bermain bersama. mereka lebih memlih bermain dengan teman – teman di sekolahnya.

Minggu, 15 November 2015

                                                                    Tangis Untukmu

 Malam ini aku terbangun dari tidurku begitu cepat. Dan saat ku lihat waktu masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku mendengar suara tangisan yang aku tak tau tangisan siapa itu.

"Siapa yang menangis malam-malam seperti ini?" lirihku.

Akupun beranjak dari tempat tidurku untuk mencari sumber tangisan itu. Dan langkahku terhenti ketika aku melewati lemari pakaiannku. Suara tangisan itu terdengar semakin dekat dan jelas. Awalnya aku sempat takut, namun rasa penasaran ini mengalahkan rasa takutku. Akhirnya ku memberanikan diri untuk membuka lemari itu. Dan ternyata tak ada sesuatu yang aneh disana, yang kudapati hanya pakaian-pakaianku yang tertata rapi. Namun tangisan itu semakin dekat dan semakin dekat. Hal itu yang membuatku terus mencari sumber tangisan itu dengan membongkar semua pakaianku. Pencarianku terhenti ketika ku temukan sebuah jilbab di hadapanku.

Ternyata jilbab itu yang menangis. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku alami saat ini. Tapi memang benar jilbab itu yang manangis. Tak berapa lama setelah ia menagis, jilbab itu mulai mengatakan sesuatu.

“YaAllah YaTuhanku… sungguh aku bersyukur Kau mentakdirkan aku menjadi sesuatu yang Kau wajibkan bagi HambaMu, sehingga aku selalu menjadi yang berharga dan terpenting untuk mereka. Tapi tidak untuk kali ini Robb.. aku yang Kau wajibkan ini tak berharga di matanya, aku yang Kau wajibkan ini menjadi barang yang tak berguna untuknya. Aku tak pernah ia kenakan lagi Robbi.. Aku telah menjadi sejarah untuknya. Ampuni dia yaAllah, berikanlah ia hidahayahMu, sadarkan ia, jadikan ia mengerti akan kewajibanku untuknya…”

Aku yang saat itu masih berdiri di lemari yang terbuka dan dihadapan jilbab yang sedang bermunajah kepada Robb-nya hanya bisa menangis dan menyesali semua itu. Kusadari akan kelalaian kewajibanku. Aku hanya memakainya dikala waktu-waktu tertentu. Oh Robb.. ampuni aku

Tak berapa lama, aku kembali mendengar suara sesuatu yang merintih. Namun kali ini bukan lagi berasal dari jilbab yang tadi dihadapanku. Melaikan dari Al-Qur’an yang tersimpan rapi di rak bukuku.

“Ilahi.. mungkin diantara ciptaanMu aku adalah ciptaanMu yang paling suci. Benda yang selalu diagung-agungkan oleh hambaMu, sesuatu yang berisi semua firman-firmanMu , sesuatu yang dijadikan pedoman bagi semua ciptaanMu, yang jika dilantunkan hati ini menjadi tenang karnaMu. Ilahi.. sungguh aku bahagia akan takdirMu ini. Namun Ilahi, disini aku hanya menjadi buku biasa yang tak berharga. Aku hanya menjadi sesuatu yang tak bernilai. Aku telah lama disimpannya disini. Aku rindu ia yang dulu, ia yang setiap hari tak pernah melewatkan untuk melantunkan ayatMu dengan merdunya. Kini suara merdunya telah ia berikan untuk lagu-lagu yang sama sekali tidak mendekatkannya kepadaMu Ilahi. Kembalikan ia seperti dulu, maafkan kesalahannya wahai Sang Pengampun, serta berikanlah ia hidayahMu wahai Sang Pencerah”.

Setelah mendengar semua itu, tubuhku terkulai lemas. Rasanya tak sanggup lagi aku menopang tubuh ini. Dan akupun terjatuh dari tempatku berdiri. Tuhan.. sekali lagi ampuni hamba.
Selang beberapa detik. Telingaku kembali mendengar rintihan sesuatu.

‘Wahai Dzat yang menjanjikan ampunan, ampuni dia yang memilikiku. Dia yang yang selalu menyia-nyiakanku, dia yang hampir selalu menunda-nunda untuk memakaiku, menunda-nunda untuk menghadapMu. Robbi.. ampuni ia yang juga tak pernah ikhlas menjalankan kewajibanMu. Ia yang hanya mengingatMu dikala susah, dan ia yang melupakanMu di saat senang. Ampuni ia Ilahi..’
Rintihan itu trnyata dari mukenahku.